“Wilujeng Lebet di Rorompokna Agung”

Sumber: htthttp://nettihariani.blogspot.com/2010/08/bab-i-pendahuluan-untuk-membahas.

htmlp://agungkencana.multiply.com/journal/item/30

Untuk membahas wawasan nusantara sebaiknya terlebih dahulu mengerti dan memahami wawasan nasional. Mengingat latar belakang suatu bangsa bahwa kebenaran yang hakiki atau kebenaran yang mutlak adalah kebenaran yang datang dari Tuhan, pencipta alam semesta dengan segala isinya, termasuk manusia di dalamnya, manusia diberikan kelebihan dari makhluk lainnya melalui akal pikiran dan budi nurani, namun tetap terbatas kemampuannya dalam menggunakan akal pikiran dan budi nurani tersebut, sehingga antara manusia satu dengan yang lain tidak memiliki tingkat kemampuan yang sama. Upaya pemerintah dan rakyat menyelenggarakan kehidupannya, memerlukan suatu konsepsi yang berupa wawasan nasional. Wawasan ini dimaksud untuk menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jadi diri bangsa. Sedangkan kata wawasan itu sendiri berasal dari (bahasa jawa) yang artinya melihat atau memandang, ditambah akhiran a yang artinya adalah cara penglihatan atau cara tinjau atau cara pandang. Suatu bangsa yang telah menegara dalam menyelenggarakan kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Pengaruh itu didasarkan atas hubungan timbal balik dan kait mengait antara filosofi bangsa, idiologi, aspirasi dan cita-cita dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat, bangsa dan tradisi, keadaan alam, serta pengalaman sejarahnya. A. Wawasan Nasional Suatu Bangsa Dalam mewujudkan aspirasi dan perjuangan ada tiga faktor penentu utama yang harus diperhatikan oleh suatu bangsa yaitu : 1. Bumi atau ruang dimana bangsa itu hidup 2. Jiwa, tekad dan semangat manusianya. 3. Lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, maka wawasan nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah menegara tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba terhubung (interaksi dan interelasi) serta pembangunannya di dalam negara di tengah-tengah lingkungannya, baik nasional, regional maupun global. B. Teori-teori Kekuasaan Wawasan nasional suatu bangsa dibentuk dan dijiwai oleh paham kekuasaan dan geolopolitik di anutnya. Beberapa teori paham kekuasaan Keberagaman Suku Bangsa di Indonesia Pendahuluan Negara Indonesia yang terdiri dari seribu enam ratus ribu pulau lebih, tentunya memiliki banyak keanekaragaman mulai dari keanekaragaman social-culture hingga aspek yang lebih luas yang kita kenal sebagai Civilization, dan salah satu dari sekian banyak keanekaragaman bangsa Indonesia adalah keanekaragaman etnik suku bangsa. Indonesia telah menjadi rumah bagi hampir seribu lebih etnis suku bangsa yang diantaranya terdiri dari beberapa inti sub etnis sebagai berikut : Etnis Sunda di wilayah Jawa bagian barat, etnis Jawa atau lebih dikenal dengan istilah “wong Jowo” di wilayah bagian tengah dan timur pulau Jawa, etnis Bali yang berda di pulau Bali, etnis Sasak yang berada di wilayah kepulauan Nusa Tenggara, etnis Minagkabau di wilayah provinsi Sumatra Barat, etnis Aceh di wilyah Aceh dan sekitarnya juga sub-sub etnis lainya. Kesemuanya berakar dari suku bangsa Sub-Mongoloid yang masuk ke wilyah Nusantara sejak 3000 SM, dan berbaur dengan penduduk setempat yang telah terlebih dahulu mendiami kepulauan Indonesia sejak zaman Plistosen Akhir atau sekitar dua juta tahun yang lalu. Dari hasil perkawian silang tersebut masyarakat Indonesia lahir dan berkembang menjadi bangsa yang besar hingga mencapai angka 200 juta jiwa menurut sensus penduduk yang diadakan pada tahun 1999. Keanekaragam etnik tersebut telah mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang dihormati di dunia Internasional, dalam hal ini Indonesia telah dapat membuktikan keberhasilanya terkait dengan permasalahan yang tengah menjadi isu hangat global yaitu isu rasisme dan agama. Keberhasilan Indonesia dalam menemukan titik temu dalam dialog lintas budaya dan agama telah memposisikan Indonesia sebagai Negara penegah dalam berbagai dialog dan konferensi seputar masalah hak asasi manusia, penjajahan, rasisme, perbedaan agama, kesetaraan, dan demokrasi. Pada tahun 1948 Indonesia menjadi tuan rumah bagi Konferensi Asia Afrika, tepatnya dilaksanakan di kota Bandung membahas tentang arti pentingnya kemerdekaan bagi bangsa-bangsa di wilayah Asia Afrika yang telah lama menjadi korban penjajahan bangsa asing, juga di dalam KTT tersebut dibahas mengenai pentingnya kesetaraan dan demokrasi demi terciptanya keamanan dunia internasional yang baru saja mengalami pahitnya Perang Dunia ke Dua. Faktor-faktor Pemersatu Etnis Kerukunan dan keanekaragaman etnis suku bangsa di Indonesia tidak terlepas dari faktor-faktor pemersatu internal di dalam tubuh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), faktor-faktor tersebut telah menjadi asas dalam kehidupan sosial dan demokrasi masyarakat Indonesia, telah menjadi landasan utama tegaknya toleransi budaya dan agama, beberapa faktor tersebut adalah: Faktor being to god atau kesamaan sebagai hasil ciptaan dan kreasi Tuhan Yang Maha Esa, telah menjadi asas utama dalam sistem demokrasi Indonesia hingga tertuang dalam butir sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.Faktor equality of humanism atau kesetaraan insaniah, bahwa insan manusia seluruhnya sama dimata Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan Pancasila butir sila ke dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.Faktor equality of social atau kesetaraan social dimana tidak adanya perbedaan senjang sosial di dalam masyarakat sesuai dengan sila ke lima yang menegaskan tentang arti pentingnya kesetaraan dalam hubungan sosial masyarakatFaktor the truly of democration atau demokrasi yang sebenar-benarnya, hal ini dapat dilihat dari sejarah bangkitnya Indonesia menjadi sebuah Negara yang berdaulat hingga zaman post modern di saat ini. Sejarah telah mencatat berbagai perobahan dan perombakan Negara seluruhnya ada di tangan rakyat.Faktor historis yang meliputi hubungan perkawinan leluhur di masa lalu, hubungan kekerabatan, dan lain sebagainya sebagai pendorong pemersatu bangsa Indonesia. Faktor-faktor di atas hanya sebagian kecil dari faktor-faktor yang memberikan pengaruh sangat aktif bagi alam pemikiran bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan sesuai dengan menguatnya isu global mengenai rasisme dan perbedaan agama. Tapi dewasa ini hal-hal di atas telah mengalami dekadensi secara total secara harfiah dapat diartikan dengan hilangnya unsure-unsur pemersatu yang telah berumur ratusan tahun, penyebabnya tiada lain ialah akibat masuknya faham-faham atau pengaruh asing yang secara global telah memberikan implikasi buruk terhadap kehidupan sosial masyarakat Indonesia, hilangnya jati diri sebagai bangsa yang cinta damai sesuai semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi bangsa Indonesia itu sendiri agar dapat kembali maju berkiprah dalam tatanan hidup Internasional, bukan merupakan keniscayaan Indonesia akan kembali bangkit menjadi Negara yang berlandaskan kerukunan dan kedamaian sesuai amanat para leluhurnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s