Sekilas Mengenai Sistem Kliring Nasional BI (Bank Indonesia)


Bank Indonesia pada tahun 2008 telah menuntaskan implementasi sistem kliring perbankan yang terintegrasi dan berskala nasional.Proyek pengembangan dan implementasiya melibatkan berbagai pihak,termasuk para vendor dan bank-bank peserta kliring.Berikut adalah proyek yang menelan dana Rp 20 miliar ini dijalankan.
SKNBI di 41 wilayah kliring,yang juga sekaligus menjadi penutup rangkaian implementasi SKNBI yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005.Menurut Deputi Gubenur Bank Indonesia (BI) Budi Rochadi yang menjabat pada tahun 2008 mengemukakan,membangun sistem kliring yang terintergrasi bukanlah pekerjaan yang mudah.Pasalnya mereka mesti menyatukan sistem kliring yang berbeda-beda di tiap wilayah dan prosesnya yang cukup panjang hingga setelah 2,5 tahun masa implementasi.

Di Indonesia ada 107 penyelenggara kliring lokal.Baik yang dilaksanakan BI maupun bank yang ditunjuk BI.Untuk menyelenggarakan kegiatan kliring tersebut digunakan 4 jenis sistem yang berbeda :

  1. Sistem Kliring Elektronik,digunakan di Jakarta.
  2. Sistem Kliring Otomatis,digunakan di Medan,Bandung dan Surabaya.
  3. Sistem Semi Otomatis Kliring Lokal (SOKL),dipakai di 33 wilayah        kliring yang diselenggarakan bank yang ditunjuk BI.
  4. Sistem Manual,terapkan di 31 penyelenggara kliring non-BI

SKNBI telah didesain untuk meminimalkan berbagai resiko,seperti risiko liquiditas,resiko operasional dan risiko fraud.Hal yang terpenting,diimplementasikannya SKNBI ini mendorong perputaran dana yang semakin tinggi dan mengurangi floating dana yang terjadi karena penundaan settlement pada sistem kliring lokal terdahulu.Manfaat bagi bank peserta terkait dengan optimalisasi pengelolaan likuiditas bank.Sebelumnya,bank harus mengelola liquiditas di seluruh wilayah kliring.Jika suatu bank menjadi anggota di seluruh wilayah kliring,setiap hari mereka harus memonitori dan menyelesaikan posisi kliring di 107 wilayah.

Melalui SKNBI,proses itu sudah tersentralisasi.Para penyelenggara kliring hanya melaporkan hasil SSK di Jakarta.Semuanya digabung,lalu menyelesaikan pembebanannya ke bank,sehingga bank ini hanya memantau liquiditasnya di JakartaPembebanannya kepada rekening dilakukan sekali saja ke SSK di Jakarta.Singkatnya,setiap peserta hanya akan memiliki satu posisi kliring setiap hari.”Manfaat yang kami rasakan setelah tergabung ke SKNBI adalah proses kliring menjadi lebih cepat,monitoring transaksi lebih mudah,dan seattlement lebih terkontrol,” ungkap Andi Nirwonto,Kepala Divisi Teknologi Informasi BNI.

Menurut Dyah N.K.Makhijani,Direkur Akunting dan Sistem Pembayaran BI,fungsi SKNBI ini akan terus ditingkatkan dengan menambah fitur-fitur baru.”Prinsipnya,pengembangan ke depan akan disesuaikan dan mengikuti kebutuhan masyarakat ,”tandasnya.
Pengertian SKNBI

Kliring merupakan pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antarpeserta-kliring,baik atas nama bank yang ditunjuk BI maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.Adapun Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) adalah sistem kliring yang dikelola Bank Indonesia yang meliputi kliring debit dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.
Berikut merupakan cakupan SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia) dalam

  • Kliring Kredit :
  1. Digunakan untuk transfer kredit antarbank tanpa disertai penyampaian fisik warkat (paperless).
  2. Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh Penyelenggara Kliring Nasional (PKN).
  3. Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh PKN atas dasar DKE kredit yang dikirim peserta.
  •  Kliring Debit :
  1. Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian,yang digunakan untuk transfer debit antarbank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debit (cek ,biyet giro,nota debit,dan lain-lain).
  2. Penyelenggaraan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah kliring oleh Penyelenggara Kliring Lokal (PKL).
  3. PKL akan melakukan perhitungan kliring debit berdasarkan DKE debit yang dikirim peserta.

  4. Hasil perhitungan klliring debit secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh PKN.

Cara kerja SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia).Seluruh Komputer Penyelenggara Kliring (KPK) wajib terhubung dengan SSK melalui Jaringan Komunikasi Data (JKD) yang dapat berupa leased line atau dial up.Adapun untuk Terminal Peserta Kliring (TPK) yang tidak berhubungan dengan SSK (TPK offline),pengiriman DKE dilakukan dengan menggunakan media rekam data elektronis (disket,flashdisk,atau CD)yang disampaikan kepada PKL.
Untuk mengembangkan SKNBI ini dana yang dikeluarkan ditaksir Rp 20 miliar lebih.Pengembangan aplikasi saja menelan investasi lebih dari Rp 5 miliar.Belum termasuk biaya untuk pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi,dan biaya untuk pengadaan hardware (PC,server,peranti telekomunikasi,dan perlengkapan pendukung lainnya).

Sementara itu pada SKNBI sepanjang 2011 tidak ada pengembangan yang berdampak pengubahan sistem secara struktural. Fokus di tahun ini adalah melakukan edukasi terhadap efisiensi penyelesaian transaksi di SKNBI melalui penambahan siklus setelmen yang semula hanya 2 kali menjadi 4 kali sepanjang waktu operasional.
Penambahan siklus tersebut memungkinkan terjadinya percepatan hasil transfer sehingga dapat efektif pada rekening nasabah penerima di hari yang sama dengan waktu lebih cepat. Namun demikian, pengefektifan hasil kliring di level bank masih banyak yang dilakukan pada esok hari sehingga walaupun sudah ada fasilitas ini, mindset masyarakat masih menganggap transfer lewat kliring lebih lama dari BI-RTGS.

Untuk peningkatan efisiensi nasional, SKNBI terus diupayakan untuk menjadi salah satu sistem pembayaran yang diharapkan mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Concern untuk memperluas layanan pembayaran ditujukan pula bagi segmen masyarakat yang belum tersentuh layanan bank umum (unbanked people). Guna menjembatani ini access policy pada SKNBI diperluas yakni dengan memungkinkan BPR dapat menjadi peserta kliring walaupun secara tidak langsung dengan bank umum sebagai jangkar.

Mengapa BPR? Hal ini didasarkan pada kondisi dimana industri BPR sangat dekat dengan lembaga keuangan mikro dan golongan masyarakat yang enggan dengan formalitas apabila berhadapan dengan industri bank umum. Kedekatan tersebut dijembatani oleh perbankan untuk menjadi jangkar atau penghubung bagi layanan jasa pembayaran khususnya kliring antarbank. Untuk merealisasikan hal tersebut, salah satu bank peserta SKNBI di Jawa Timur telah menjadi bank jangkar atau sering dikenal dengan Apex bank bagi BPR yang berada di wilayah Jawa Timur. Inisiasi ini diharapkan dapat diikuti pula  oleh bank umum lainnya untuk menjangkau transfer dana melalui SKNBI antar BPR di wilayah lain. Sehingga ke depan upaya meningkatkan inklusivitas bagi lembaga keuangan mikro maupun unbanked people dalam memanfaatkan layanan pembayaran semakin meningkat.

Aktivitas kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) Aktivitas kliring melalui SKNBI relative stabil dan tidak mengindikasikan lonjakan transaksi secara signifikan. Selama 2011, transaksi yang dikliringkan melalui SKNBI berjumlah 95 juta dengan nilai transaksi mencapai Rp1,9 ribu triliun.

Sebagian besar transaksi pada SKNBI merupakan transfer dana elektronik antar nasabah bank dengan jumlah nilai yang dibatasi yaitu kurang dari Rp100 juta. Dengan jumlah transaksi yang diperkirakan rata-rata sehari mencapai 395 ribu transaksi (naik 6,9% bila dibandingkan tahun lalu), bisa dibilang merupakan jumlah yang sangat banyak. Hampir sebagian besar aktivitas pembayaran dilakukan melalui kliring. Misalnya, transaksi pembayaran melalui mesin ATM, internet banking, mobile banking, maupun sms banking hampir sebagian besar dilakukan melalui kliring. Apalagi sejak diimplementasikannya mekanime close to real time dalam proses pembayaran melalui kliring. Dengan biaya yang lebih murah dibanding transfer dengan RTGS, saat ini transfer dana melalui kliring bisa.

Keterangan TKP : Terminal Peserta Kliring,KPK : Komputer Penyelenggara Kliring,
SSK : Sentral Sistem Kliring,SSSS : Scripless Securities Settlement Systems
RTGS : Real Time Gross Seattlement , SIKJJ : Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh
Sumber : majalah SWA NO.02/XXIV/24 JANUAR-5 FEBUARI 2008 HAL 118 DITULIS OLEH A.MOHAMMAD B.S. dan BANK INDONESIA

http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/…EA44…/DraftOutlook_FINAL.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s